Rabu, 15 April 2020


FOKUS PADA KOMPETENSI DIRI
Karya Inovasi Dan Kualitas Diri
Tri Agus Cahyono, M.Pd.


Tri Agus Cahyono, lahir di Pacitan, 22 Agustus 1982. Begitu muda namun kaya akan karya. Mengabdi sebagai guru di SD Negeri Belik Tepus Kecamatan Tepus, Gunungkidul.

Beliau menamatkan pendidikan terakhir Program Studi Pacsasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Magister Pendidikan Dasar-IPA tahun 2015 melalui beasiswa P2TK Dikdas dengan predikat Cum Laude. Hingga saat ini aktif sebagai ketua KKG Gugus V Purwodadi, Tepus Gunungkidul, Yogyakarta.

Pada kesempatan mala mini beliau bersedia sharing proses menjadi pendidik unggul yang mumpuni dalam Invovasi pembelajaran. Prestasi beliau bisa dilihat di https://wijayalabs.wordpress.com/2020/04/14/biodata-tri-agus-cahyono/

Berdasar taksonomi Bloom direvisi oleh Krathwool sebuah karya inovasi dapat digambarkan sebagai berikut:


Jadi karya inovasi adalah puncak belajar dan pembelajaran. Tidak mungkin kita langsung ke C6 tanpa memulai dari C1. Adalah tidak mungkin sesorang ikut lomba Inobel tanpa ia memahami bagaimana ia mengajar dan belajar. Karena dalam inobel bukan produk yang dinilai, tetapi proses hirarki terciptanya produk itu. Kalau seseorang berinovasi tanpa tahu ilmunya, tidak paham maksudnya, tiak pernah menggunakannya, tidak bisa menganalisis bagian-bagiannya, dan tidak bisa menilai kelebihan dan kekurangannya, maka mustahil karya itu disebut inovasi.

Kunci dari inovasi pembelajaran yaitu APIK; Asli, Perlu, Inovatif, dan Konsisten. Ada hukum kausalitas dalam terbentuknya karya inovasi. Berangkat dari rasa ingin tahu dan tantangan anak (zona motivasi) timbul keinginan untuk membuat karya yang menantang namun mudah dikerjakan. Rasa inilah yang harus dipelihara untuk memacu terbentuknya karya inovasi yang pada akhirnya trciptalah prestasi.

Seperti pada PTK atau PTS, perlu tindakan yang berulang-ulang agar percipta incovasi yang mumpuni, yang dapat digeneralisasi untuk semua atau serumpun pembelajaran.

Bapak Agus yang kesehariannya mengajar IPA, menemukan kesulitan membuat realitas dari pembelajaran abstrak mengenai gerak semu matahari. Tidak sedikit percobaan yang ia lakukan, mulai dari globe sampai bola yang disinari senter. Namun itu semua belum memberikan pengalaman belajar yang mudah dimengerti siswa SD.

Setelah pengalamannya naik wahana cangkir berputar di Dufan, ia mendapat ide sebagaimana bagan berikut:

                                      (maaf Pak Agus, izin comot gambarnya)

Akhirnya siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna.

Intinya, kunci inovasi itu ada dua, menemukan yang varu dan menyempurnakan yang lama. Tapi, dengan kerja tambahan guru yang (mungkin) lebih dari tugas pokok mengajar, perlu pintarnya kita menyiasati menyelesaikan administrasi dengan usaha kita untuk berinovasi. Apabila kita telah membuat karya inovasi, kita dapat mendaftar Inobel yang informasinya bisa didaptkan di kesharlindung. Tapi kita harus yakin bahwa karya kita memenuhi unsur APIK. Judul yg menarik, segar/baru, berbeda dari yg lain dan tentu saja harus lolos uji smiliarity maksimal 30% turnitine. 

Untuk membuat karya tulis yg layak lolos uji smiliarity ada tipsnya yaitu; sedikit mengutip langsung, gunakan sumber asing terjemahkan sebisanya, dan jangan membaca buku sumber / KTI oranglain saat menulis. Karya tulis yg paling bagus adalah karya pengembangan (Research & design) atau best practice. Tidak semua Inobel adalah produk inovasi pembelajaran, bisa juga mengembangan model pembelajaran yang sudah ada. Hanya perlu kehati-hatian agar tidak terjebak plagiarism.

Kesimpulan, Dalam berinovasi jangan memikirkan masalah yg bersumber dari luar seperti lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, dll tetapi FOKUS pada KOMPETENSI DIRI itulah yg akan memudahkan kita menemukan hal-hal/ide penting yg membantu keberhasilan pembelajaran. Setelah itu semua prestasi pasti mengalir sesuai sunatullah.

JKT, 15/04/20

Selasa, 14 April 2020

DI SINILAH KAMI BEREKSPRESI
Menulis Artikel Di Majalah PGRI

 Dr. Jejen Mustah, M.A.
Pemimpin Redaksi Majalah Suara Guru PB PGRI.


Saya mulai megang spidol, bawa buku agenda warna biru dan berhadapan dengan sekelompok remaja berbaju seragam dengan pikiran beragam dalam satu ruang mulai tahun 1999. Kalau Om Jay enggak bikin ‘kuliah’ malam ini tentang majalah PGRI. Asli, saya gak (mau) tahu tentang majalah ini. Padahal di perpustakaan selalu ada majalah ini yang terupdate. Saya lebih senang ke perpustakaan minjem majalah NatGeo aja. Ternyata saya katak dalam tempurung. Terima kasih Om Jay sudah membuka tempurung cakrawala saya.

Majalah PGRI terbit bulanan sejak tahun 1950-an (https://id.wikipedia.org/wiki/Majalah_Suara_Guru). Saat ini sudah menginjak usia 70 tahun. Usia segitu tanpa kontribusi guru dalam mengisi konten mustahil adanya. Oleh karena itu kami bersyukur Bapak Jejen Mustah (biodata beliau di https://wijayalabs.wordpress.com/2020/04/14/biodata-jejen-musfah/ ) bersedia memberikan ‘kuliah’ mengenai bagaimana kita bisa berkontribusi terhadap konten majalah PGRI.

Untuk berkontribusi ke majalah yang setiap edisinya mencetak 5000 eksemplar dan disebar ke 34 provinsi ini syaratnya menulis biodata singkat kita dan foto. Boleh foto serius, lagi ngajar, lagi workshop, silahkan. Kita bisa menyampaikan opini terkini yang terkait dengan pendidikan asal tidak menyangkut SARA. Karena PGRI adalah organisasi professional yang sah dan resmi. Jadi bebas dari muatan-muatan lain selain pendidikan.  Untuk opini maksimal 1000 kata.

Malajah kita ini sangat membutuhkan kontribusi kita. Tapi bukan asal kontribusi. Majalah PGRI terbit dalam dua versi, cetak dan daring. Naskah yang kita kirim akan muncul di https://suaraguruonline.com dalam beberapa jam saja. Sedangkan untuk versi cetak terbit dua bulan sekali. Naskah yang kita kirim menjadi milik PGRI, artinya kita tidak boleh memasukkan ke majalah lain. Ingat, naskah kita harus orisinil, bukan copy paste punya orang.


Akhirnya, Suaraguru adalah wadah aspirasi kita sebagai insan pendidik dalam menyuarakan dinamika pendidikan. Mari kita jadikan diri kita bermanfaat salah astunya melalui kontribusi kita di majalah tersebut.

JKT 14/04/20

Senin, 13 April 2020

“WHAT AWESOME PROF. EKO INDRAJIT”
Menulis Buku Dalam Seminggu dari Seminar  Virtual di Youtube

                                       Diambil dari eko.id


Mengajar adalah DNA beliau. Entah basa nitrogen (adenine, guanine, cytosine, dan thymine) yang mana yang mengandung kejeniusan beliau. Beliau sangat multitalenta dalam duania pendidikan. Ibarat kata PALUGADA (apa lu minta gua ada).

Bahkan beliau bisa mendapatkan uang dengan mudah di saat kita ketar ketir di masa lockdown ini. Bayangkan baru bikin Youtube channel, udah dapet 11 jeti sekali tayang. Kalau diteruskan Ria Ricis sama Atta Halilintar mah lewat.

Beliau mulai menulis buku tahun 1998 (saat krismon) dengan ilmu kanuragan KUDU. Kudu nolongin temen yang gak sanggup beli buku, kudu bisa nyari duit untuk makan. Dasarnya orang jenius langsung masuk penerbit mayor. Hingga sekarang telah ada 75 buku. Bahkan dalam eko.id kita bisa mengunduh artikel beliau (eh, beneran loh, saya kira preview nya aja). Hebat Pak.

Pada ‘kuliah’ malam ini beliau memberikan tips membuat buku dalam seminggu. Kuncinya ada di 5W1H (WHAT, WHO, WHERE, WHEN, WHY dan HOW) pada satu topik. Misal mengenai #dirumahaja, Hari pertama; APA itu #dirumahaja, hari kedua; SIAPA saja yang termasuk #dirumahaja, hari ketiga DIMANA saja yang memberlakukan #dirumahaja, hari keempat; KAPAN pemberlakuan ini dimulai, Bagaimana teknis pelaksanaannya, hari kelima; MENGAPA ada pemberlakuan #dirumahaja, dan hari keenam; BAGAIMANA dampak yang ditimbulkan. Hari ketujuh mengedit hasil tulisan kita.

Intinya kita tidak perlu terbebani dengan tujuh hari tersebut. Latihlah passion kita dalam menulis. Apalagi dalam jaman internet ini, unstructured bisa menjadi structured. Tapi dalam menulis sampaikan energy positif ke pembaca.

Terakhir, jangan lupakan etika dalam membuat buku. Pertama, buku yang kita buat harus orisinil, minimal 80% anti plagiarism. Kedua, atribusi. Kita dapat mengambil tulisan teman atau orang lain dengan menyantumkan tempat kita mengambilnya. Istilahnya nyuwun sewu terlebih dahulu. Sehingga kalau kita sudah jadi penulis mayor, kita juga akan disebutkan dalam buku orang lain.

Terima kasih Pak Prof. Eko, Om Jay dan Om Bams.
GURU BERPRESTASI BUKAN ILUSI
Resume Pertemuan Bapak H. Encon Rahman


Bagi sebagian guru, termasuk saya, Guru Berprestasi, selanjutnya disebut Gupres, hanyalah ilusi. Sesuatu yang indah seperti pelangi namun tak pernah bisa disambangi. Lama kelamaan jadi utopia, sesuatu yang absurd. Ujung-ujungnya negative minded. Halaaah, paling anunya anu-anu sama anunya acara. So pasti ganjaran dosa yang didapat.

Tapi malam kemarin (maaf baru bikin, mati lampu) kita disadarkan oleh pemateri bapak H. Encon Rahman bahwa Gupres itu seperti seperti Gunung Salak. Hanya terlihat indah dari Ciapus, Laladon, atau Cibungbulang. Tapi kalau kita tidak mendakinya, kita tidak bisa merasakan kenikmatan yang lebih dari orang yang biasa lihat.

Seorang pendaki umumnya menyiapkan segala sesuatu untuk pendakian. Demikian juga Bapak Encon memberikan tips mendaki puncak Gupres, yaitu dengan 7 M, Mendidik, Membimbing, Mengarahkan, Melatih, Menilai, Mengajar, dan Mengevaluasi.

Selain itu kita juga harus memiliki dua modal; memiliki amalan batiniah dan memiliki amalan lahiriyah. Salah satu amalan batiniah ketika kita akan mengikuti lomba gupres adalah jangan dengki kepada orang lain sesama peserta gupres. Kedua jangan sombong dan rasa bakal jadi pemenang karena kita merasa paling banyak karya misalnya.

Adapun amalan lahiriahnya adalah isi seluruh komponen portofolio dgn benar. Selanjutnya bentuk perhatian yang diberikan pemerintah terhadap gupres, selain uang tunai , laptop dan juga bisa  studi banding ke luar negeri juga kita sering diundang menjadi pembicara di berbagai tempat dari Kemendikbud.

Intinya untuk menjadi Gupres, persiapkan diri lahir dan batin. Man Jadda wa Jada

JKT, 13/04/20

Sabtu, 11 April 2020



Mie Ayam Acil


Dengan gerobak berwarna biru telor asin, kentongan khas, bunyi kompor pompa yang juga khas bunyinya, membuat mie ayam Acil mengendap dalam memori hingga aku setua ini. Waktu aku kelas 4 SD, aku mulai diperkenalkan kakakku untuk ‘sedikit’ bandel. Aku terlahir dari keluarga polisi yang tertib aturan. Semua kegiatan per hari sudah ‘on schedule’, tanpa reserve. Mulai dari bangun tidur, makan siang, main dengan teman hingga tidur malam. Semua kami jalani seperti di barak tentara.

“Tok … tok … tok.”, begitulah suara yang kudengar hamper setiap sore lewat depan rumahku. “Dek, mau beli gak?”, Tanya kakakku. Kusahut dengan ragu-ragu. Tahu-tahu semangkok mie ayam telah terhidang di hadapaunku. Mie yang berwarna kuning pucat, sawi yang timbul tenggelam di antara mie. Sangat kontras warnanya. Suwiran daging ayam kecap menghiasi bagian atas yang sebgaian tertutup saus sambal. Di pojok mangkok ada sejoli bakso yang bercengkarama dengan sambal ijo berbau khas. Ada lagi yang khas dari mie ayam Acil, gambar ayam jago pada bagian luar mangkok dan sumpit plastic berwarna merah menyala. Sungguh, sangat menggugah selera.

Kenapa dikatakan mie ayam Acil? Tidak lain karena perawakannya yang kurus dan kecil. Acil = Anak kecil. Ialah tukang mie ayam pertama yang berjualan dari komplek Bona Indah Lebak Bulus hingga komplek polisi Pasar Jumat. Ia berjualan dari jaman jalan Karang Tengah masih berupa jalan setapak hingga menjadi jalan arteri. Ia juga yang mengajarkanku menikmati mie ayam dengan sumpit. Sungguh suatu pembelajaran yang berharga.

Semua begitu mengalir. Sampai pada masa masyarakat tergila-gila dengan acara Trans TV ‘INVESTIGASI’. Tapi aku lebih sreg menyebutnya acara agitasi dan provokasi. Badai pun menerpa tukang mie ayam dan bakso. Seminggu Acil tak muncul, dua minggu, tiga minggu hingga dua bulan. Kangen lidah ini menari-nari memainkan mie dan sawi. Akhirnya pada suatu hari terdengar bunyi yang khas. Tapi kok nadanya beda?. Kocoba melongok ke luar pintu, Yah, bukan bang Acil. Gak apa-apa deh, beli aja. Ternyata jauh panggang dari api. Selalu ada saja yang kurang setiap aku mencoba mie ayam. Bayangkan dari tahun 2000 hingga tahun 2010 aku kehilangan mie ayam yang khas.

Tahun 2005, setelah berkeluarga aku pindah ke Gunung Sindur Kabupaten Bogor. Kadang aku masih mengingat bagaimana rasa mie ayam Acil. Lama-lama rasa itu sirna dari kenangan papilla lidah dan ingatanku. Hari Senin tahun 2010, aku izin pulang cepat karena badan agak meriang. Ba’da zhuhur, terdengar suara yang khas itu lagi. Kucoba menegaskan, nada, tempo dan tonenya sama persis. Segera aku keluar, kok bukan bang Acil?. Biarlah, lagi pula aku sudah lapar. Sambil membuat mie, abangnya kutanya, “Bang, sebelum ke sini, udah jualan di mana aja bang?”. Abang mie ayam itu menjawab ia mulai berjualan di Lebak Bulus. “lebak Bulusnya mana Bang?”. Dijawabnya di Bona Indah. Aku tanya apakah kenal Bang Acil. Tidak disangka ia menjawab bang Acil adalah adiknya. Ialah yang menyuruh adiknya berjualan di komplekku.


“Terus kemana bang Acil kemana Bang?”. Jawabnya adiknya pulang kampong karena istrinya meninggal. Ia berjualan mie ayam di kampungnya. “Nih pak udah selesai”, katanya. Segera setelah masuk rumah kucicipi mia ayam itu. Seperti adegan di film animasi ‘Ratatouille’ semua kenangan muncul kembali. Ya Allah, terima kasih. Telah kutemukan rasa khas yang hilang. Hingga kini setiap Sabtu dan Minggu tak pernah kulewati mie ayam kesenanganku.


JKT, 12/04/20

Kamis, 09 April 2020

DASAR MENULIS
Pemilihan Kata, Penulisan Kalimat dan Penyusunan Pragraf
Imam Fitri Rahmadi

“FANBOYS WATER BE SAW”

Pada Pertemuan ke delapan ini kita mempelajari proses membentuk pragraf yang disusun mulai dari pemilihan kata dan penulisan kalimat. “FANBOYS WATER BE SAW”, itulah yang bisa saya ambil dari pertemuan malam tadi. For (untuk), And (dan), Nor (maupun), But (tetapi), Or (atau), Yet (namun), So (sehingga) digunakan untuk menggabungkan kalimat. Sedangkan kalimat kompleks dirangkai dengan menambahkan kata seperti When (ketika), AfTER (setelah), BEcause (karena), Since (sejak), Although (meskipun), While (sementara).

Imam Fitri Rahmadi, adalah seorang penulis buku akademik, pengelola jurnal, dan reviewer jurnal, selain dosen sebagai profesi utama. Beliau menerangkan bagaimana menulis sebuah paragraph yang memiliki ‘rasa’. Mulai dari pemilihan kata, penulisan kalimat hingga penyusunan paragraf. Pemilihan kata atau diksi digunakan untuk penulisan personal, formal atau akademik. Kesalahan diksi akan berakibat kesulitan dalam penulisan kalimat.

Kalimat terdiri dari kalimat sederhana (simple sentence), kalimat gabungan (compound sentence), kalimat kompleks (complex sentence), dan kalimat campuran. Terdapat 4 macam kalimat majemuk: setara, rapatan, bertingkat, dan campuran. Ya, itulah FANBOYS WATER BE SAW. Dengan magic words tersebut, sebuah kalimat, atau gabungan kalmat, memiliki ‘rasa’ sesuai keperluan kita, apakah personal, formal atau akademik.

Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mempunyai satu kalimat topik (topic sentence) sebagai ide pokok atau gagasan utama (main idea) dan beberapa kalimat penjelas (supporting sentences) sebagai detail yang menjelaskan ide pokok. Kita mengenal dua jenis paragraf, deduktif dan induktif. Sebagai penjelas dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Fungsi gagasan utama adalah sebagai pengontrol gagasan (idea controlling). Bentuk kalimat penjelas harus bervariasi, terdiri dari kalimat gabungan dan kompleks, serta dilengkapi dengan konjungsi sebagai transisi antar kalimat supaya paragraf mengalir dengan baik, enak dibaca, dan mudah dipahami.

Baiklah sekarang saya mencoba mengerjakan tugas pertama.

Tetap di rumah saja dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif. Menggunakan masker ketika terpaksa harus bepergian dan selalu menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara lainnya. Senantiasa jaga stamina dengan istirahat yang cukup juga dapat dilakukan untuk menjaga imun tetap baik sehingga tidak rentan tertular.

Paragraf di atas tidak ada gagasan utamanya. Saya mencoba memasukkan gagasan utama sehingga menjadi:

#dirumahaja adalah himbauan pemerintah dalam mencegah menyebaran virus Corona. Tetap di rumah saja dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif. Menggunakan masker ketika terpaksa harus bepergian dan selalu menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara lainnya. Senantiasa jaga stamina dengan istirahat yang cukup juga dapat dilakukan untuk menjaga imun tetap baik sehingga tidak rentan tertular.

Saya juga mencoba mengerjakan tugas kedua.

Pandemi koronavirus mengubah pola orang dalam bersosialiasi, bekerja, dan belajar di Indonesia.
Kalimat ini adalah gagasan utama. Saya akan kembangkan menjadi sebuah paragraph.

Pandemi koronavirus mengubah pola orang dalam bersosialiasi, bekerja, dan belajar di Indonesia. Sebelum pandemi ini definisi belajar dan bekerja adalah berkumpulnya sejumlah orang yang memiliki kesamaan ide, maksud dan tujuan dalam suatu ruang interaksi fisik dalam jangka waktu tertentu. Pun demikian dengan sosialisasi dengan sesama. Harus ada ruang interaksi fisik. Keadaan berubah karena suatu hal sehingga kita tidak diperbolehkan kontak fisik (social and physical contact). Perlu definisi ulang mengenai bekerja, belajar dan bersosialisasi. Ada bagian yang diganti yaitu ruang interaksi fisik menjadi ruang interaksi maya. Demikian dengan pola interaksi. Dunia maya yang memiliki keterbatasan membangkitkan kembali rasa toleransi dalam berinteraksi.

Sekarang saya mencoba membuat sebuah paragraf deduktif yang terdiri dari satu gagasan utama dan beberapa kalimat penjelas.

Literasi numerasi di kalangan pelajar masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya tingkat literasi numerasi Indonesia (Gerakan Literasi Nasional, Kemendikbud, 2017). Mindset Literasi numerasi di kalangan pendidik dan pelajar hanya berkutat pada masalah matematika dasar saja. Padahal literasi numerasi sejatinya adalah pengembangan matematika dasar. Seperti mengestimasi dan menghitung dengan bilangan bulat, menggunakan pecahan, desimal, persen, dan perbandingan, hingga menginterpretasi informasi statistik. Literasi numerasi sangat dibutuhkan dalam era 4.0 ini.

Mohon koreksinya mas Imam dan Om Jay di kolom komentar. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

JKT, 10/04/20

Selasa, 07 April 2020


MENULIS TANPA IDE
Budiman Hakim
“Menulis bukan untuk menyenangkan orang, tapi diri sendiri”


Beliau adalah seorang penulis yang berangkat dari copywriter hingga ‘hinggap’ ke zona penulis handal. Pengalamannya mengundang kami ingin menggali lebih dalam tentang pengalaman beliau sebagai penulis. Om Bud, itulah sebutan tenarnya, baik oleh keluarga beliau, relasi, kolega dan teman-temannya. Oleh Om Jay beliau didapuk sebagai narasumber.

Kelihatannya absurd mengatakan kita dapat menulis tanpa ide sehingga melahirkan tulisan yang menarik. Kita terbiasa dalam alur ide jadi tulisan. Oleh Om Bud dibalik alurnya, sebuah tulisan memaksa ide muncul. Kuncinya ada di EMOSI pembaca. Tulisan kita harus mampu membangkitkan berbagai jenis emosi pembaca. Kita harus memasukkan unsur emosi ke dalam tulisan kita. Tapi tanpa latihan kita sering terjebak ke dalam writer’s block. Stuck dan blank yang kalau dipaksakan makin ngawur, hilang esensinya. Om Bud memberi tips menghindarinya yaitu; 1) memanfaatkan emosi. Emosi yang sederhana dalam kehidupan kita sehari hari. Misal, jangan pernah seorang laki-laki menikah wanita idamannya sekampung. Haram hukumnya. Receh kan? Tapi hal itu mampu membangkitkan emosi instan pembaca. Oleh Om Bud disingkat CERPENTING, cerita pendek gak penting. Karena niatnya hanya membangkitkan emosi, tidak lebih. Beliau memberikan dua contoh cerpenting. Di lain waktu akan saya coba tuangkan cerpenting saya dalam blog ini. Mohon koreksinya ya pembaca. Untuk memulai cerpenting latih dan asah rasa menulis kita pada kejadian sehari-hari yang luput dari pengamatan orang kebanyakan. Tapi setelah kita tulis, orang baru ‘ngeh’. Begitu kita melihat kejadian segera tulis dimedia yang kita bawa. Bisa di buku notes, notes hp, atau yang lain sehingga peristiwa itu tidak ambyar begitu saja. Begitu samapi di rumah segera pindahkan ke folder khusus di laptop dengan nama yang familiar bagi kita. Seperti GUDANG IDE, PENA BERJALAN, dan lainnya.

Yang kedua, MEMANCING EMOSI. Seperti yang saya tulis di atas “Menulis bukan untuk menyenangkan orang, tapi diri sendiri”. Begitu kita dapat emosi dari yang kita lihat atau alami, konversikan menjadi ide tulisan. Jangan menunggu ide dating lalu baru menulis. Menulislah dulu maka ide akan datang padamu, kata Om Bud.
Kita sering melihat orang memancing, tapi tidak pernah ikannya masuk ke dalam embernya sendiri. Harus dipancing, dan cari tempat memancing yang banyak ikannya. Demikian pula dengan IDE. Dipancing di tempat yang peluang munculnya ‘mak jegagig’ ide banyak. Om Bud  memberikan tipsnya, yaitu menuliskan enam benda sekitar kita dirangkai menjadi suatu cerita yang membangkitkan emosi, bukan imaji. Gunakan semua indera kita, kemudian perkaya rasa  jiwa, lalu tuangkan dalam tulisan.
Om Bud menantang kita dengan kata SEPATU TUA, KASUR, KULKAS, PINTU, HANDUK DAN PANCURAN. Oke, saya akan coba tulis di blog ini.

Menulis adalah proses yang diperlukan latihan terus menerus. Tuliskan apa yang kita lihat, dengar, raba, cium, rasa menjadi sebuah ide yang dituangkan dalam tulisan. Tulislah sampai terpuaskan rasa kita. Setelah itu edit semua tata bahasa dan nilai-nilai tadi kita masukkan. Di sinilah hati nurani menjadi sensor kita. Kita jangan terjebak pada fiksi atau non fiksi biarkan mengalir. Usahakan emosi yang kita dapatkan pertama sebagai induk ide. Setelah itu kita dapat membuat turunannya pada tulisan berikutnya. Hingga terbentuk sebuah buku. Twist tetap  diperlukan karena berfungsi memaksa pembaca menghabiskan buku kita. Tetapi jangan dipaksakan. Bikin cringe dan ilfil pembaca, yang ujung-ujungnya kita di bully.

Terakhir Om Bud mengajak kita untuk  masuk ke website thewriters.id . Oke siap Om.

JKT, 7/4, 22.52

Minggu, 05 April 2020


MENULIS DAN MENERBITKAN BUKU BERKUALITAS
Dr. Akbar Zainuddin


Pertemuan Ketujuh pada Pembelajaran Maya “Menulis gelombang Tujuh” yang diasuh Om Jay kali ini menampilkan nara sumber penulis buku best seller “Man Jadda Wa Jada” Bapak Dr. Akbar Zainuddin. Pertama kita disajikan paparan beliau yang menarik di https://www.youtube.com/watch?v=Pvq2dqyWNcQ&feature=youtu.be.
Beliau memaparkan TOJTRP, saya lebih suka menyambungnya menjadi Top Jika TRamPil (menulis). Maknanya kita akan berharga jika kita rajin dan trampil menulis.



T yang pertama adalah tema. Hal ini penting sebagai rel yang mengikat kita dari kata awal hingga kata terakhir buku yang kita buat.


Huruf yang kedua O . Buku yang kita buat harus ada daftar isinya (Outline). Manfaat outline agar tulisan terarah, menyusun jadwal dan target, menghindari kevakuman ide, dan terselesaikan buku yang kita buat.


Langkah ketiga adalah J. Kita buat jadwal penulisan. Disinilah core of the core, intinya inti yaitu DISIPLIN. Menurut beliau disiplinkan diri kita menulis 30 sampai dengan 60 menit sehari menulis naskah kita. Kita tentukan jadwal sesuai outline yang kita buat.


Langkah keempat adalah T. Tuliskan apa yang telah kita temakan, buatkan daftar isinya juga jadwalnya. Intinya displin dan komitmen. Buang jauh jauh yang namanya M-A-L-A-S. Apalagi dalam era 4.0 ini dibutuhkan disiplin diri yang tinggi. Karena walaupun idealisme kita setinggi langit tetapi kita tidak bisa mengikuti perkembangan jaman, tetap kita akan kersungkur dan tergerus ke belakang.


Langkah kelima adalah R.  Revisilah naskah kita kalua seluruh draft telah selesai. Hindari revisi untuk satu artikel terus menerus. Kita akan kehilangan mood dan energi untuk artikel berikutnya. Hal yang harus direvisi meliputi data dan informasi, tata Bahasa, gaya tulisan kita karena terkait dengan personal branding, dan judul judul artikel. Buatlah judul yang provokatif, menarik dan singkat. Judul yang menarik adalah yang memuat maksimal tiga kata. Jika ada kelebihan dijadikan subjudul.


Langkah keenam: P. Kirim draft kita ke penerbit. Ingat, penerbit bukan bapak, kakak atau saudara kita. Pertimbangan utama penerbit adalah profit. Fungsi penerbit selain membantu menyebarkan ide atau gagasan, juga mencari keuntungan. Mungkin buku yang kita tawarkan ke penerbit disukai masyarakat, tetapi apakah menjadi kebutuhan masyarakat? Agar buku kita diterima penerbit, yakinkan penerbit dengan memberikan gambaran siapa saja target buku kita, kelebihan buku kita disbanding buku lain yang sejenis, dan bantuan yang kita tawarkan agar kita buku dibutuhkan masyarakat. Banyak alasan draft kita ditolak. Diantaranya perbaikan redaksi. Revisi yang telah kita kerjakan adakalanya belum sesuai keinginan penerbit. Kita harus menerimanya. Yang penting ide gagasan kita dalam buku itu mampu menyebar ke masyarakat.


Kesimpulan dan ibrah yang bisa saya ambil pada pertemuan ini adalah PASSION, COMMITMENT, DICIPLINE, dan SUCCESS. aamiin

Terima kasih Pak Akbar Zainuddin atas ilmu dan inspirasinya

JKT, 05/04/2020

Jumat, 03 April 2020

Resume Pertemuan Keenam
Belajar Menulis Gelombang 7

MENULIS MOMEN SPESIAL SAAT MENGAJAR
 Bapak Munif Chatib
 "TIDAK ADA ANAK YANG NAKAL
Yang ada adalah anak yang belum terpenuhi kebutuhan keinginannya."

Pertemuan keenam kali ini, lagi om Jat bikin surprise. Hanya lewat youtube dan WAG kita bisa tercerahkan mengenai momen spesial saat kita jadi artis, sutradara, bahkan produser dalam pembelajaran. Bapak Munif Chatib menjelaskan lewat mixing slide dan suara yang diolah oleh kinemaster disajikan di youtube.
Pertama beliau memperkenalkan diri melalui CV.
Kita merasa tersanjung. Dengan jam terbang yang menembus awan masih sudi mengajari saya yang merangkak di tanah.

Slide berikutnya diterangkan mengenai pengertian, effect, dan cakupan momen spesial.
Yang membuat saya tertarik adalah cakupan momen spesial. Tindakan kita di kelas akan memberikan efek pada perubahan motivasi, kemampuan, dan sikap. Bisa ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.

Slide berikutnya, momen spesial bisa kita dapatkan pada pembukaan, kegiatan inti, bahkan penutup pembelajaran. Sebagai seorang yang menakdirkan diri sebagai guru, tentu punya unlimites sources sehingga tercpta momen spesial. Kekurangannya adalah kita tidak menulis momen itu.

Padahal kalau momen itu, walaupum sejenak, kita tulis maka akan meninggalkan jejak fisik yang bisa dibaca, dikenang, bahkan dicari orang. Lagi pula kita tidak terkekang oleh kaidah tulisan, karena bukan tulisan ilmiah.

Pada slide ini beliau menerangkan lima pintu masuk momen belajar ke dalam long term memory.
Apabila kita bisa masuk ke salah satu pintu, maka di situlah momen spesial kita akan dikenang. Baik melalui first experience, relevance (kaitan dengan individu), rehearsal (pengulangan), wmotional (terkait dengan emosi saat bwlajar), dan survival (manfaat belajar bagi kehidupan nyata). Sebaliknya bila kelima limanya tidak kita dapatkan, sia sialah kita mengajar.

Pada slide sesudahnya, Bapak Munif mengajarkan tahapan menulis spesial momen. Ada tiga tahap, yaitu CET (catat, elaborasi, tulis).

Pada slide akhir, beliau menantang kita (secara tak langsung) mencipta, merekam, menulis momen spesial kita dalam bentuk tulisan yang menarik.
Beliau sudah memulainya dengan judul "80 menit di kelas neraka"

Pada sesi diskusi, suasana lebih cair dan berkembang. Intinya momen spesial itu bukan tercipta, tapi kitalah yang menciptakan. Setelah tercipta, sgera kita CET, agar tak terhapus kenangan lain yang tak perlu dikenang.

JKT, 3/4, 21.40




Kamis, 02 April 2020


ARTI NOMINAL UANG SERATUS RIBU
Seratus ribu rupiah. Sebuah nominal alat tukar perdagangan yang berlaku di Indonesia saat ini. Satu lembar 'senyuman proklamator' memiliki berjuta cerita. Di dompet penguasa, ia terhimpit oleh kartu nama rekanan-rekanan 'previlege' untuk setiap kebijakan yang diambil. Ia terasing, tanpa teman. Lurus tegak hingga lusuh terselip. Di dompet sosialita, ia pun terhimpit oleh kartu debet dan kartu kredit 'gold silver'. Menanti penuh harap ia terbebas dari himpitan. Ia hanya ingin berganti pemilik, bukan minta digesek seperti teman-temannya. Di dompet anak muda, ia hanya mampir sesaat. Untuk selanjutnya pindah ke tempat lain. Bisa di kafe, bioskop, konter pulsa, atau teater JKT48.

Sebenarnya 'sang proklamator' ingin berpindah ke tangan yang selalu berdoa di tengah malam mengharap rezeki esok hari, tanpa ditukar benda atau jasa. Ia ingin 'senyum'nya lebih sumringah seperti orang yang sangat mengharap mendapatkannya. Karena ia merasa lebih dihargai selayaknya nominal uang tertinggi. Ia ingin tersenyum melihatnya membelanjakan demi mengisi perut keluarganya agar malam nanti mereka dapat terlelap.

'Sang proklamator' juga ingin dibelanjakan pasir, semen, batu bata untuk menegakkan kembali surau yang hampir roboh. Ia dan teman-teman senominal ingin dibelanjakan karpet. Agar orang yang bersujud tidak perlu mengusap debu dan pasir di dahinya. Ia ingin dibelanjakan mukena baru, menggantikan mukena lusuh dan bau di sebuah langgar. Ia pun ingin sekali bertemu dengan warga Uang Republik Infonesia di dalam kotak amal selama malam tarawih.

Itulah selembar seratus ribu rupiah dengan berjuta cerita. Di manakah uang itu yang ada di dompet kita akan bertukar pemilik? WaLlaahu a'lam bishshawab.

Rabu, 01 April 2020

Resume Pertemuan Kelima Belajar Menulis Gelombang 7

Mendesain Pembelajaran Jarak Jauh yang Efektif
Indra Charismiadji

Host : Pak Wijaya Kusumah
Waktu : 19.00 - 20.30
Media : Webex

Pembelajaran dimulai pukul 19.00. Hingga pukul 19.30 masih terkendala pada tampilan dan noise.

Ternyata peserta (termasuk saya) gaptek. Micnya belum di'mute'. Pada slide pertama menampilkan 4 pilar pendidikan UNESCO yang langsung meramaikan dunia maya. Karena Pak Indra memodif gambarnya dengan visual kekinian,
semuanya serba digital 4.0. Banyak peserta yang dipersilakan bertanya makin curhat. Gak apa-apa daripada curmahar (hancur mata pencaharian). Takutnya kena PDP (positif dadi pengangguran). Sempat ucapan Pak Indra membuat saya tercengang. Permendikbud mana yang menyatakan bahwa harus tuntas?. Lha.. berarti selama ini saya malatafsir permendikbud dong.

Pembelajaran semakin hangat dengan ditampilkannya slide digitalisasi pendidikan
Semakin beragam pertanyaan teman-teman. Akhirnya kita sadar bahwa dengan adanya peristiwa ini memaksa kita untuk masuk dalam era digital pendidikan.


Dua slide dapat menjawab pertanyaan kita tentang pendidikan era digital 4.0. Ya, guru sebagai role play pembelajaran untuk menghasilkan portofolio siswa yang orisinil. 

Terima kasih Pak Indra, Om Jay dan teman teman semua dalam pembelajaran bermakna ini.
MENERKA GESTURE KUCING

Kucing dari jaman sebelum masehi menjadi binatang yang paling sering menjadi peliharaan. Alasan kebanyakan orang menjadikannya peliharaan adalah lucu dan mudah diajak bercanda. Tapi tahukah kita bahasa tubuh atau gesture kucing yang sesungguhnya? Dilansir dari https://www.hipwee.com/tips ada 14 gesture kucing yang perlu kita ketahui.

1. Kucing akan menyapa, “halo!” dengan cara mengeong halus kepadamu, kamu bisa menyapa balik atau mengelusnya.

2. Jangan kaget jika kucingmu tiba-tiba berlari kencang, menyambar benda apapun yang ada di dekatnya. Dia sedang kelebihan energi untuk disalurkan.

3. Jika suara ‘meow’ sudah agak nyaring, itu artinya kucingmu sedang lapar. Segera beri makanan.

4. Sikap tubuh kucing yang sedang duduk atau berbaring sambil mengedipkan matanya perlahan-lahan, berarti dia lagi nyaman, alias mager.

5. Kadang-kadang kucing suka bertindak kurang sopan dengan naik ke atas meja dan tidur di tumpukan barang-barang milikmu. Dia punya maksud tertentu, misal minta perhatian.

6. Jangan coba-coba mendekati kucingmu saat dia mengarahkan telinga ke depan, lalu memutar ke belakang, disusul dengan mengecilkan pupil mata. Ia sedang marah atau tidak ingin diganggu.

7. Kucing yang mudah resah. Biasanya ditandai dengan menggigit-gigit kukunya. Kebiasaan ini adalah kebiasaan buruk di dunia kucing. Tapi, bisa jadi dia ingin kamu memotong kuku-kukunya yang sudah panjang.

8. Jika kucing mulai menggosok-gosokan kepalanya ke kaki atau tanganmu dengan manja, itu artinya ia sangat senang berada di dekatmu. Kamu sudah dianggap sebagai ‘miliknya’.

9. Saat ekor kucing masuk di antara kaki dan bulunya mengembang, ia sedang merasa ketakutan atau terkejut.

10. Jika kucingmu mendesis, itu juga berarti kucingmu sedang ketakutan dengan level yang lebih tinggi.

11. Mencakar-cakar karpet bukan cuma sebagai sarana untuk mengasah kuku tetapi juga digunakan untuk menandai wilayah. Kenapa ditandai? Kucingmu merasa bahagia dengan hidupnya dan merasa semua kebutuhannya terpenuhi. Dia nggak mau ada kucing lain yang menempati posisinya.

12. Jika kucingmu sering menerkam kamimu, artinya dia sedang ingin bermain denganmu dan melatih insting berburunya. Ajak dia bermain dengan memberinya bola atau mainan lainnya untuk menyalurkan keinginan tersebut.

13. Jika kucing berguling-guling di depanmu, itu artinya dia ingin bermain bersama. Kucing yang melakukan hal ini biasanya sudah sangat percaya kepada sang pemiliknya. Tapi jika dia melakukannya di depan kucing lain, itu artinya dia merasa tertarik dan sedang menggodanya. Biasanya kucing betina yang melakukan hal ini.

14. Ketika telinga ditarik ke belakang sejajar kepalanya dengan posisi bertahan, berarti kucingmu sedang ketakutan dan siap menyerang.

Nah, dari keempat belas kriteria tersebut, keempat gambar di atas termasuk kriteria yang mana? Menggo silakan diterka sendiri. Wassalam.