Senin, 30 Maret 2020


SIOMAY DAN SILUET

Siang itu, setelah lelah berjibaku pada kewajibanku mengajar di sebuah sekolah menengah di daerah perbatasan antara Keluraham Lebak Bulus dan Kelurahan Cilandak, langkahku terhenti, walau baru satu dua langkah melewati gerbang sekolah. Tiba tiba mataku tertuju pada gerobak yang lama tak singgah di tempat biasanya. "Pak guru, Pak..Pak." ada suara yang kukenal di balik gerobak itu. " Eh mang cecep", balasku. "Pak guru kemana motornya? Kok jalan sorangan?", tanya pedagang tersebut. "Biasa, lagi di servis", jawabku sekenanya. "Mampir Pak guru", pinta mang Cecep. "Ini mau ke sana", timpalku.

   Mungkin jarak dari gerobak itu dengan posisiku hanya sepuluh sebelas langkah, namun setiap langkah kakiku menarik lembar demi lembar masa lalu ke hadapanku. Ya, sebelum menjadi guru aku adalah tukang siomay dengan gerobak dan posisi jualan yang sama dengan saat ini. Aku mengawali kehidupanku di Ibukota lima belas tahun yang lalu. Berbekal niat tanpa kecakapan aku 'nyasar' menjadi tukang siomay. Pahit, manis, asin berjualan telah aku lalui.

   Sampai akhirnya seorang langgananku, sekaligus tempatku menimba ilmu, mengatakan ada lowongan guru matematika di SMP di depan tempatku berdagang. Oh ya, aku adalah lulusan institut keguruan swasta di daerahku. Singkat cerita, aku diterima mengajar. Karena siomayku 'berkarakter', aku harus mencari orang pengganti yang ulet, minimal sama denganku. "Cecep, ya Cecep orangnya", gumamku. Tetangga kampungku yang selalu rajin ke masjid.  "Mau gak dagang siomay di Jakarta? Entar tinggalnya sama saya aja dulu", pintaku. "Mau Pak", sahut Cecep. " Tapi abdi teu nyaho jual siomay", kata Cecep. "Gampang, nanti saya ajarin", timpalku.

Waryanto
SMP Keluarga Widuri Cilandak
Jakarta Selatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar