Kamis, 09 April 2020

DASAR MENULIS
Pemilihan Kata, Penulisan Kalimat dan Penyusunan Pragraf
Imam Fitri Rahmadi

“FANBOYS WATER BE SAW”

Pada Pertemuan ke delapan ini kita mempelajari proses membentuk pragraf yang disusun mulai dari pemilihan kata dan penulisan kalimat. “FANBOYS WATER BE SAW”, itulah yang bisa saya ambil dari pertemuan malam tadi. For (untuk), And (dan), Nor (maupun), But (tetapi), Or (atau), Yet (namun), So (sehingga) digunakan untuk menggabungkan kalimat. Sedangkan kalimat kompleks dirangkai dengan menambahkan kata seperti When (ketika), AfTER (setelah), BEcause (karena), Since (sejak), Although (meskipun), While (sementara).

Imam Fitri Rahmadi, adalah seorang penulis buku akademik, pengelola jurnal, dan reviewer jurnal, selain dosen sebagai profesi utama. Beliau menerangkan bagaimana menulis sebuah paragraph yang memiliki ‘rasa’. Mulai dari pemilihan kata, penulisan kalimat hingga penyusunan paragraf. Pemilihan kata atau diksi digunakan untuk penulisan personal, formal atau akademik. Kesalahan diksi akan berakibat kesulitan dalam penulisan kalimat.

Kalimat terdiri dari kalimat sederhana (simple sentence), kalimat gabungan (compound sentence), kalimat kompleks (complex sentence), dan kalimat campuran. Terdapat 4 macam kalimat majemuk: setara, rapatan, bertingkat, dan campuran. Ya, itulah FANBOYS WATER BE SAW. Dengan magic words tersebut, sebuah kalimat, atau gabungan kalmat, memiliki ‘rasa’ sesuai keperluan kita, apakah personal, formal atau akademik.

Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mempunyai satu kalimat topik (topic sentence) sebagai ide pokok atau gagasan utama (main idea) dan beberapa kalimat penjelas (supporting sentences) sebagai detail yang menjelaskan ide pokok. Kita mengenal dua jenis paragraf, deduktif dan induktif. Sebagai penjelas dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Fungsi gagasan utama adalah sebagai pengontrol gagasan (idea controlling). Bentuk kalimat penjelas harus bervariasi, terdiri dari kalimat gabungan dan kompleks, serta dilengkapi dengan konjungsi sebagai transisi antar kalimat supaya paragraf mengalir dengan baik, enak dibaca, dan mudah dipahami.

Baiklah sekarang saya mencoba mengerjakan tugas pertama.

Tetap di rumah saja dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif. Menggunakan masker ketika terpaksa harus bepergian dan selalu menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara lainnya. Senantiasa jaga stamina dengan istirahat yang cukup juga dapat dilakukan untuk menjaga imun tetap baik sehingga tidak rentan tertular.

Paragraf di atas tidak ada gagasan utamanya. Saya mencoba memasukkan gagasan utama sehingga menjadi:

#dirumahaja adalah himbauan pemerintah dalam mencegah menyebaran virus Corona. Tetap di rumah saja dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif. Menggunakan masker ketika terpaksa harus bepergian dan selalu menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara lainnya. Senantiasa jaga stamina dengan istirahat yang cukup juga dapat dilakukan untuk menjaga imun tetap baik sehingga tidak rentan tertular.

Saya juga mencoba mengerjakan tugas kedua.

Pandemi koronavirus mengubah pola orang dalam bersosialiasi, bekerja, dan belajar di Indonesia.
Kalimat ini adalah gagasan utama. Saya akan kembangkan menjadi sebuah paragraph.

Pandemi koronavirus mengubah pola orang dalam bersosialiasi, bekerja, dan belajar di Indonesia. Sebelum pandemi ini definisi belajar dan bekerja adalah berkumpulnya sejumlah orang yang memiliki kesamaan ide, maksud dan tujuan dalam suatu ruang interaksi fisik dalam jangka waktu tertentu. Pun demikian dengan sosialisasi dengan sesama. Harus ada ruang interaksi fisik. Keadaan berubah karena suatu hal sehingga kita tidak diperbolehkan kontak fisik (social and physical contact). Perlu definisi ulang mengenai bekerja, belajar dan bersosialisasi. Ada bagian yang diganti yaitu ruang interaksi fisik menjadi ruang interaksi maya. Demikian dengan pola interaksi. Dunia maya yang memiliki keterbatasan membangkitkan kembali rasa toleransi dalam berinteraksi.

Sekarang saya mencoba membuat sebuah paragraf deduktif yang terdiri dari satu gagasan utama dan beberapa kalimat penjelas.

Literasi numerasi di kalangan pelajar masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya tingkat literasi numerasi Indonesia (Gerakan Literasi Nasional, Kemendikbud, 2017). Mindset Literasi numerasi di kalangan pendidik dan pelajar hanya berkutat pada masalah matematika dasar saja. Padahal literasi numerasi sejatinya adalah pengembangan matematika dasar. Seperti mengestimasi dan menghitung dengan bilangan bulat, menggunakan pecahan, desimal, persen, dan perbandingan, hingga menginterpretasi informasi statistik. Literasi numerasi sangat dibutuhkan dalam era 4.0 ini.

Mohon koreksinya mas Imam dan Om Jay di kolom komentar. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

JKT, 10/04/20

1 komentar: