Rabu, 15 April 2020


FOKUS PADA KOMPETENSI DIRI
Karya Inovasi Dan Kualitas Diri
Tri Agus Cahyono, M.Pd.


Tri Agus Cahyono, lahir di Pacitan, 22 Agustus 1982. Begitu muda namun kaya akan karya. Mengabdi sebagai guru di SD Negeri Belik Tepus Kecamatan Tepus, Gunungkidul.

Beliau menamatkan pendidikan terakhir Program Studi Pacsasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Magister Pendidikan Dasar-IPA tahun 2015 melalui beasiswa P2TK Dikdas dengan predikat Cum Laude. Hingga saat ini aktif sebagai ketua KKG Gugus V Purwodadi, Tepus Gunungkidul, Yogyakarta.

Pada kesempatan mala mini beliau bersedia sharing proses menjadi pendidik unggul yang mumpuni dalam Invovasi pembelajaran. Prestasi beliau bisa dilihat di https://wijayalabs.wordpress.com/2020/04/14/biodata-tri-agus-cahyono/

Berdasar taksonomi Bloom direvisi oleh Krathwool sebuah karya inovasi dapat digambarkan sebagai berikut:


Jadi karya inovasi adalah puncak belajar dan pembelajaran. Tidak mungkin kita langsung ke C6 tanpa memulai dari C1. Adalah tidak mungkin sesorang ikut lomba Inobel tanpa ia memahami bagaimana ia mengajar dan belajar. Karena dalam inobel bukan produk yang dinilai, tetapi proses hirarki terciptanya produk itu. Kalau seseorang berinovasi tanpa tahu ilmunya, tidak paham maksudnya, tiak pernah menggunakannya, tidak bisa menganalisis bagian-bagiannya, dan tidak bisa menilai kelebihan dan kekurangannya, maka mustahil karya itu disebut inovasi.

Kunci dari inovasi pembelajaran yaitu APIK; Asli, Perlu, Inovatif, dan Konsisten. Ada hukum kausalitas dalam terbentuknya karya inovasi. Berangkat dari rasa ingin tahu dan tantangan anak (zona motivasi) timbul keinginan untuk membuat karya yang menantang namun mudah dikerjakan. Rasa inilah yang harus dipelihara untuk memacu terbentuknya karya inovasi yang pada akhirnya trciptalah prestasi.

Seperti pada PTK atau PTS, perlu tindakan yang berulang-ulang agar percipta incovasi yang mumpuni, yang dapat digeneralisasi untuk semua atau serumpun pembelajaran.

Bapak Agus yang kesehariannya mengajar IPA, menemukan kesulitan membuat realitas dari pembelajaran abstrak mengenai gerak semu matahari. Tidak sedikit percobaan yang ia lakukan, mulai dari globe sampai bola yang disinari senter. Namun itu semua belum memberikan pengalaman belajar yang mudah dimengerti siswa SD.

Setelah pengalamannya naik wahana cangkir berputar di Dufan, ia mendapat ide sebagaimana bagan berikut:

                                      (maaf Pak Agus, izin comot gambarnya)

Akhirnya siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna.

Intinya, kunci inovasi itu ada dua, menemukan yang varu dan menyempurnakan yang lama. Tapi, dengan kerja tambahan guru yang (mungkin) lebih dari tugas pokok mengajar, perlu pintarnya kita menyiasati menyelesaikan administrasi dengan usaha kita untuk berinovasi. Apabila kita telah membuat karya inovasi, kita dapat mendaftar Inobel yang informasinya bisa didaptkan di kesharlindung. Tapi kita harus yakin bahwa karya kita memenuhi unsur APIK. Judul yg menarik, segar/baru, berbeda dari yg lain dan tentu saja harus lolos uji smiliarity maksimal 30% turnitine. 

Untuk membuat karya tulis yg layak lolos uji smiliarity ada tipsnya yaitu; sedikit mengutip langsung, gunakan sumber asing terjemahkan sebisanya, dan jangan membaca buku sumber / KTI oranglain saat menulis. Karya tulis yg paling bagus adalah karya pengembangan (Research & design) atau best practice. Tidak semua Inobel adalah produk inovasi pembelajaran, bisa juga mengembangan model pembelajaran yang sudah ada. Hanya perlu kehati-hatian agar tidak terjebak plagiarism.

Kesimpulan, Dalam berinovasi jangan memikirkan masalah yg bersumber dari luar seperti lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, dll tetapi FOKUS pada KOMPETENSI DIRI itulah yg akan memudahkan kita menemukan hal-hal/ide penting yg membantu keberhasilan pembelajaran. Setelah itu semua prestasi pasti mengalir sesuai sunatullah.

JKT, 15/04/20

10 komentar: